Indonesia saat ini sedang memasuki masa beraninya keroyokan.
Semua kepentingan sekarang dikendalikan oleh yang namanya massa.
Buruh menuntut kenaikan upah maka semua buruh di negeri ini kompak berdemo.
Mereka tidak sadar bahwa dengan berdemonya mereka, hasil produksi kerja mereka menjadi 0, tempat kerja mereka terus mau jual apa?
Jika upah mereka naik, ongkos dan bahan produksi naik, tetapi jumlah produksi tetap, harga hasil produksi tidak naik (kalau naik takut barangnya tidak laku) apakah mampu perusahaan tempat mereka mencari makan dapat terus berproduksi?
Bagaimana jika dibalik? Pengusaha yang berdemo?
No offense, buruh – pengusaha saling butuh, mereka saling hidup dan menghidupi. Hanya saja cara buruh menyampaikan keinginannya itu yang perlu diperbaiki.

Kenapa?
Karena baru saja tersiar kabar, bahwa Samsung, perusahaan teknologi yang cukup besar lebih memilih Malaysia daripada Indonesia sebagai tempat pusat produksi mereka. Padahal, Indonesia merupakan pasar salah satu pasar terbesar Samsung.
Suatu kerugian kan? Bisa dibayangkan bila Samsung mendirikan pusat produksinya di Indonesia kan? Tenaga kerja terserap, pengangguran berkurang, tingkat perekonomian masyarakat menjadi meningkat.
Jika sudah begini? Kita rugi karena tingkah laku kita sendiri. Mengenaskan….:(

Bukan hanya buruh. Sopir angkutan sekarang juga menggunakan cara yang sama, untuk yang katanya menyampaikan aspirasinya, mereka tidak segan menutup jalan. Jalan yang notabene adalah milik semua lapisan, tetapi dengan seenaknya mereka tutup. Tidak hanya ruas jalan di perkotaan saja yang mereka tutup, tetapi terkadang ruas jalan antar kota bahkan antar propinsi mereka tutup.

Tidak sadarkah?
Dengan ditutupnya ruas jalan, transportasi menjadi mandek, roda perekonomian menjadi terhenti. Yang rugi? Semua lapisan masyarakat mulai dari yang terbawah sampai yang teratas.
Dan yang lebih rugi lagi adalah para sopir, karena sopir yang memang berniat mencari uang untuk menghidupi keluarganya tidak mendapatkan setoran untuk hari itu.

Kekuatan massa bukan hanya berhenti disitu.
Demo mahasiswa, demo siswa sekolah, dan demo-demo lainnya yang menggunakan massa, seakan menjadi satu kekuatan sendiri untuk menyampaikan (baca: memaksa) suatu kehendak, tanpa mereka peduli dengan kepentingan orang lain.

Kenapa kita beraninya keroyokan? Masing-masing individu dari kita adalah ksatria. Ksatria yang gagah berani bagi diri, keluarga dan lingkungan.
Kebenaran, kejujuran, yang merupakan sifat seorang ksatria berasal dari diri sendiri.
Indonesia maju, berasal dari diri sendiri
Indonesia merdeka, berasal dari diri sendiri
Indonesia berasal dari sini, dari dalam diri kita sendiri.