Kebanyakan pada saat sekarang ini di dalam rumah tangga suatu perkawinan, kaum hawa, istri, ingin menguasai pria melalui sifat maskulinitas yang dipunyai oleh wanita, sedangkan para pria ingin menaklukan wanita yang dinikahinya dengan sisi femininitas yang dipunyai oleh pria.

Padahal hal ini jelas bertentangan dengan hati nurani. Wanita yang diberkahi dengan kelembutan dan kesabaran seharusnya lebih menonjolkan sisi femininitasnya untuk menaklukkan lelaki yang dinikahinya, bukan malah membentak, menyuruh ataupun memukulnya. Jika hal ini terjadi tentu sisi maskulin pria akan tergerak, dan hal ini akan diterjemahkan sebagai suatu tantangan bagi seorang pria, dan selanjutnya maka sudah bisa ditebak, suami dan istri ini akan berterngkar.
Jika kecenderungan pria/suami menghindari konflik, maka suami akan mengeluarkan sisi femininitasnya dengan mengalah, tetapi jika hal ini dilakukan terus menerus, tentu suami tersebut akan selalu menjadi tertekan dalam kehidupan rumah tangganya, karena sikap mengalah itu bertentangan dengan hati nuraninya, akibatnya suami tersebut seperti menyimpan bom, bom yang akan dapat meledak menghancurkan setiap sisi kehidupan rumah tangganya.

Seperti lingga dan yoni, begitulah seharusnya kehidupan rumah tangga itu berlangsung.
Suami yang disimbulkan dengan lingga tidak akan dapat berdiri tanpa kehadiran istri yang disimbolkan dengan yoni.
Yoni hanya akan dapat tertutup sempurna hanya dengan lingga.
Lingga yang keras dan kuat seharusnyalah dapat memberikan kekuatan di dalam rumah tangganya dalam bentuk keputusan, kebijaksanaan dan tanggung jawab. Sedangkan yoni yang berbentuk wadah, seharusnyalah dapat menjadi tempat yang nyaman untuk menerima segala bentuk pemberian lingga, jika diwujudkan didalam kehidupan rumah tangga, seharusnyalah wanita bisa menjadi istri yang penuh kelembutan, dan pengertian bagi suaminya.