Ah, sehabis chatting sama sahabat baru dari Bogor, jadi kangen baca-baca puisi yang kebetulan masih tertinggal di hardisk kantor.

Tanyakan Kepada Sang Badai

Aku bersimpuh di kaki sang badai
Serpihan uzurku ruku’ bersama gelombang badai
Badai yang terus bertasbih merajam kehampaan
Menghempaskan rintihan keakuanku
Bagai bangkai terkoyak di tebing karang
Melemparkan kerinduanku
Menyeberangi mega – mega di sudut cakrawala

Aku adalah anak bajang
Yang lahir dan ditimang dalam pusaran badai
Deru suara badai melantunkan seruling wahyu
Penuntun bait jiwaku
Kepakan sayap jala – jala kabut sang badai
Membungkam kebutaanku dengan tajjali agung

Wahai derita…
Bersedihlah karena air mata ini bukan lagi bagimu
Wahai keputusasaan dan kecewa…
Nikmatilah kesendirianmu
Karena aku tak pernah lagi menghampirimu
Wahai Isro’il…
Datanglah kapan kau mau
Karena engkaupun tak akan mampu
Menyakiti dan menakutiku
Mengapa…
Karena kepala ini sudah kuserahkan kepada Sang Badai
Wahai pengecut dan penakut…
Jangan ikuti langkahku meniti badai
Karena kerajaanmu akan bertabur menjad debu
Wahai keledai – keledai picik…
Jangan kau baca puisiku
Karena tidak ada janji surga menantimu
Mengapa…
Karena hanya seekor anjing
Yang bisa menari bersamaku dalam liukan badai

## Sebuah Nama Yang Tak Pernah Mati ##