Penyebutan Mahatma di depan nama Gandhi melambangkan kebesaran jiwanya. Dalam bahasa Sansekerta, mahatma berarti berjiwa agung.

Keagungan jiwanya terlihat dalam perlawanan damai yang dia terapkan dalam melawan kolonialisme Inggris. Meski mengaku sebagai pemeluk Hindu yang taat, Gandhi juga sangat menghormati pemikiran agama lain, termasuk Islam dan Kristen.

Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus punya hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam suatu negara. Karena itu, dia sangat menyesal ketika India akhirnya harus terpecah menjadi dua, India dan Pakistan, hanya karena perbedaan agama.

Toleransinya yang tinggi terhadap Islam itulah yang membawanya pada kematian. Seorang penganut fanatik Hindu menembaknya pada 30 Januari 1948. Penembak itu berbaur dengan ribuan orang yang berkerumun untuk mendengar wejangannya.

Berikut beberapa ungkapan yang pernah disampaikan Mahatma Gandhi, yang menunjukkan tingginya toleransi dan kecintaannya pada perdamaian.

“Meskipun saya terbunuh, saya tidak akan berhenti menyebut (berulang-ulang) nama Rama (Tuhan dalam agama Hindu India) dan Rahim (dari Ar-Rahim – salah satu Asmaul Husna – dalam ajaran Islam), yang menurut saya adalah Tuhan yang sama. Dengan nama-nama itu di bibir saya, saya akan mati dengan sukacita.”

“Ya. Saya juga seorang Kristen, Muslim, Buddha, dan Yahudi.”

“Ungkapan (Nabi) Muhammad layaknya harta karun kebijaksanaan, yang tidak hanya untuk umat Muslim, tetapi juga seluruh umat manusia.”

“Kebenaran itu jauh lebih kuat dibandingkan senjata pemusnah masal apa pun.”

“Mata dibalas dengan mata hanya akan membutakan dunia.”