Hari Minggu kemarin (21 Oktober 2007) diadakan hajatan pertama keluargaku.
Hajatannya, acara mudhun lemahe (turun tanah) Sekar, yang diadakan di rumah Yang Ti, maksudnya biar Mbah Buyutnya Sekar bisa ngikutin acara cicit ketiganya ini.
Alhamdulillah acara mudhun lemah berjalan lancar, Sekar nggak nangis, nggak rewel, pokoknya langsung plek plek plek.

Acara mudhun lemah dimulai setelah Dhuhur, mundur 1 jam dari jadwal acara, tapi ga pa pa, tamu tamu undangan yang notabene adalah om om dan tante tante ku masih bisa sabar menunggu.



Acara mudhun lemah diawali dengan Sekar nginjak jadah, proses ini sempet diulang, soalnya Eyang Kakung telat ambil fotonya Sekar waktu injak jadah hehehe.
Acara ngidak jadah ini kalo ga’ salah adalah simbol dari kesiapan orangtua dalam membimbing anaknya mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan warna – warni.



Selanjutnya setelah menjinjak jadah 7 warnanya sukses, dilanjutkan dengan acara naik tangga tebu ireng yang jumlahnya 5 (ato ada yang 7).
Naik tangga tebu ini seingatku merupakan simbol kesiapan orang tua dalam membimbing anaknya menuju tingkat spiritual atopun cita-cita anak yang perlu digapai.



Setelah dua acara itu selesai, Sekar lalu dimasukkan ke kurungan ayam yang didalamnya sudah ada bermacam macam barang, mulai dari alat-alat kecantikan sampai barang-barang dapur. Ternyata Sekar lebih memilih pensil 2B biru, terus ambil barang yang kedua, kaca rias kecil, barang yang ketiga sisir rambut.
Hmm…kira-kira Sekar besok gede mo jadi apa yah?

Yah…inilah acara mudhun lemah tersukses yang dilakoni oleh cucu-cucunya eyang kung sama eyang ti, nggak ada tangisan dari Sekar, kalo Mas Rafi sama Mbak Fira dulu, acara sempat diputus beberapa kali, masalahnya Mas Rafi, mbak Fira pada nangis semua ditengah-tengahnya acara.