Sandaran Hati – Letto
Yakinkah ku berdiri, di hempa tanpa tepi
Bolehkah aku, mendengarmu…
Terkubur dalam emosi, dan tak bisa bersembunyi
Aku dan nafasku, merindukanmu…
Terpuruk ku di sini, teraniaya sepi
Dan ku tau pasti, kau menemani
Dalam hidupku, kesendirianku…
[Reff:]
Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri, ku lakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti, jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Inikah yang kau mau, benarkah ini jalanmu
Hanyalah engkau, yang ku tuju
Pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah, tanpa hadirmu
Dalam gelapnya, malam hariku
[Reff] ~
Sandaran hati…
Untuk lebih menikmati sebuah lagu, artikan kata “Mu” yang terdapat dalam lirik lagu menjadi sebuah arti Dia, TuhanMu.
Hasilnya??? Silahkan dinikmati sendiri :
Tanyakan Kepada Sang Badai
Ah, sehabis chatting sama sahabat baru dari Bogor, jadi kangen baca-baca puisi yang kebetulan masih tertinggal di hardisk kantor.
Tanyakan Kepada Sang Badai
Aku bersimpuh di kaki sang badai
Serpihan uzurku ruku’ bersama gelombang badai
Badai yang terus bertasbih merajam kehampaan
Menghempaskan rintihan keakuanku
Bagai bangkai terkoyak di tebing karang
Melemparkan kerinduanku
Menyeberangi mega – mega di sudut cakrawalaAku adalah anak bajang
Yang lahir dan ditimang dalam pusaran badai
Deru suara badai melantunkan seruling wahyu
Penuntun bait jiwaku
Kepakan sayap jala – jala kabut sang badai
Membungkam kebutaanku dengan tajjali agungWahai derita…
Bersedihlah karena air mata ini bukan lagi bagimu
Wahai keputusasaan dan kecewa…
Nikmatilah kesendirianmu
Karena aku tak pernah lagi menghampirimu
Wahai Isro’il…
Datanglah kapan kau mau
Karena engkaupun tak akan mampu
Menyakiti dan menakutiku
Mengapa…
Karena kepala ini sudah kuserahkan kepada Sang Badai
Wahai pengecut dan penakut…
Jangan ikuti langkahku meniti badai
Karena kerajaanmu akan bertabur menjad debu
Wahai keledai – keledai picik…
Jangan kau baca puisiku
Karena tidak ada janji surga menantimu
Mengapa…
Karena hanya seekor anjing
Yang bisa menari bersamaku dalam liukan badai## Sebuah Nama Yang Tak Pernah Mati ##
Tirta Kamandanu
Tirta Kamandanu ini terletak di kota Kediri, ato tepatnya di desa Pamenang Kediri.
Rute untuk menuju ke lokasi ini, yang paling mudah adalah lewat jalan depan gedung DPRD Kediri.
Jika dari arah Malang, sebelum gedung DPRD ato lebih enaknya pas berhenti di Bang Jo (Setopan ato lampu lalulintas) ambil belokan ke kanan. Terusss masuk, sambil liat sebelah kanan jalan, kalo ada gapura bertulikan, Pamuksan Sri Aji Jayabaya, beloklah ke arah situ.
Menurut cerita, Tirta Kamandanu ini adalah tempat mandinya ato bersucinya Sri Aji Jayabaya sebelum beliau muksa.
Beberapa tahun yang lalu, sumber air di Tirta Kamandanu ini masih mengeluarkan air, tapi entah mengapa sekarang sumber air itu ditutup dengan batu, kolamnya kering, dan yang lebuh parah, banyak nyamuknya. Mungkin ini efek dari renovasi yang tak kunjung selesai.
Berita dari situs Kediri.Go.id
Sekitar 10 km, ± 5 menit dari Kota Kediri. Situs ini dipercayai sebagai tempat moksa Prabu Sri Aji Joyoboyo yang terkenal sebagai Raja Kediri abad XII dan juga ramalan Jongko Joyoboyonya. Situs – situs yang ada di kawasan budaya ini seperti Sendang Tirto Kamandanu, Palinggihan Mpu Bharada, dan juga Arca Totok Kerot.Banyak pengunjung yang melakukan ziarah di situs ini dan puncak ritual di Pamuksan tanggal 1 Suro dengan ribuan pengunjung dari berbagai daerah untuk prosesi ritual
Sosok Prabu Joyoboyo memang mengundang kekaguman. Ini pula yang jadi alasan, mengapa wisatawan banyak yang datang ke petilasannya.Termasuk ke Sendang Tirta Kamandanu. Sendang ini dulunya kolam dengan sumber air alami yang memiliki banyak fungsi, salah satunya menambah kekuatan lahir dan batin manusia. Tanggal 26 April 1980, sendang ini mulai dipugar. Karena tempat ini dianggap sebagai bagian tak terpisah dari petilasan Sang Prabu. Desain barunya. Sendang ini menjadi kawasan taman segi empat berukuran 1.016 meter persegi.
Bangunan utama, kolam pemandian yang airnya selalu mengalir melalui tiga tingkatan. Yaitu sumber, tempat penampungan, dan kolam pemandian. Kolam ini dilengkapi dengan Arca Syiwa Harihara (perdamaian) dan Ganesha. Selain itu, tempat ganti pakaian, gapura, tempat mengambil air, dan pagar. Sedang bangunan pelengkap terdiri dari halaman, gapura utama (Kori Agung dan Candi Bentar), dan pagar dengan patung dewa di masing-masing sudut . Masing-masing Bathara Wisnu, Brahma, Bayu, dan Indra.
-
Arsip
- Agustus 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (1)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (2)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (1)
- Juni 2008 (3)
- Mei 2008 (5)
- April 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS















