Bahasa Ibu
Baru siang tadi aku menyadari, sadar bahwa yang aku ajarkan ke anakku ternyata bukanlah bahasa ibu, tetapi sudah merupakan bahasa nasional. Kalo kata mama-nya sih ga pa pa, mana yang lebih mudah aja pengucapannya, biar Sekar nanti bisa cepet ngomong. Yah aku sadar akan hal ini, aku sadar, semoga aku tidak semakin menenggelamkan bahasa daerahku, bahasa Jawa.
Ilir-Ilir
Lir…Ilir,
Lir…Ilir,
Tandhure wong sumilir,
tak ijo royo-royo,
tak sengguh temanten anyar.Cah angon-cah angon,
penekno blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekna,
kanggo mbasuh dodo tira.Dodo tira…dodo tira,
kumitir bedhah ing pinggir,
dondomono, jlumetana…
kanggo seba mengko sore,
mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane…yo surak…o, surak…iyo
6th Sense
Hmm..akhir akhir ini si siksens ini kok mulai aktif lagi? Padahal udah lama di off, apa jangan jangan tombol On-nya kepencet ga; sengaja yah? Ato ada sesuatu yang akan datang dan terjadi, nah kalo yang ini harus ditunggu nih…
Sebenarnya tanda-tanda aktifnya lagi ini ketika mertuaku datang ke rumah. Ayah ngajakin ngomong tentang hal begituan, yah akhirnya mau ga’ mau nyambung, lalu “tik” on deh.
Berlanjut sampai di Sidoarjo, ngobrol ngalur ngidul sampe jam 12 malam, tambah “tik” deh.
Berlanjut lagi sampai hari ini…dan mungkin sampai besok-besoknya lagi.
Ah kayaknya sudah saatnya untuk masuk ke dalam keheningan lagi…
Semoga malam minggu besok bisa ikut ngobrol di Tumbal Negara
Bingung
Ga’ tau ah mau posting apa…
Rencana awal sih mo posting soal perkembangan rumah NB-17 (99% udah jadi hak milik), terus ga’ jadi, diganti mo posting tentang leluhur, gak jadi juga, akhirnya posting bingung ini
Letto – Sebelum Cahaya
Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Ke mana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta…
Reff I: Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya…
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang ‘kan membelaimu cinta…
Kekuatan hati
Yang berpegang janji
Genggamlah tanganku cinta…
Ku tak akan pergi
Meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta…
Kembali: Reff I
Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Ke mana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta…
Reff I I: Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya…
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang ‘kan membelaimu cinta…
‘Kan membelaimu cinta…
Dalem sampun mboten sabar nenggo penjelasanipun mbah
Ilustrasi Tentang Kematian
Mati, pasti pernah terbayang di benak kita.
Bagaimana sih rasanya orang yang sudah mati terhadap dunia yang ditinggalkannya?
Mungkin ilustrasi dibawah ini bisa membawa khayalan kita tentang dahsyatnya rasa kangen orang yang mati terhadap segala sesuatu yang dicintainya di dunia ini:
Bayangkan, jika seandainya kita bertemu dengan seseorang sebut saja A yang mengajak kita pergi untuk selama lamanya, dan kita tidak boleh menolak sedikitput ajakan pergi ke suatu tempat yang kita tidak pernah tahu keadaannya tanpa boleh berpamitan kepada anak, istri atopun siapa saja kerabat kita. Tetapi kita masih diberi hak untuk menyaksikan keadaan mereka hanya lewat monitor yang telah disediakan.
Sudah bisa membayangkan? Bagaimana rasanya kuangen yang amat sangat?
Apalagi bila keluarga kita masih meratapi kepergian kita, wah bisa tambah nelangsa hati kita, inilah sebabnya kita tidak boleh terlalu berlarut-larut meratapi meninggalnya seseorang, “mesakake sing wis budhal”.
Jadi dalam hal ini manakah yang perlu ditakuti, proses sakratul maut, ato kehidupan setelah mati???
Mengenang Mas kawin
Mas kawin 1, originally uploaded by ariherdi.
Mengenang masa indah 1,5 tahun yang lalu.
Mengenang masa pembuatan mas kawin yang sungguh luar biasa ini ![]()
Mengenang prosesi pemberian mas kawin ini, yang opps mas kawinnya ketinggalan di rumah penginapan, tapi untung aja rumah penginapannya dekat
Mobil Impian
Beberapa hari ini, aku dan istriku sering membicarakan mobil impian.
Yah memang obrolan ini sifatnya hanya omong kosong aja, wong duit buat beli mobil aja nggak ada blass.
Berikut ini daftar mobil impian kita:
1. Mitsubishi Grandis
Gara-gara iklan di TV, istriku jadi seneng si Mitsu Grandis ini, bentuknya keren. (Rentang harga (260-290 juta)
2. Mazda 5
Nah kalo Mazda 5 ini, penyebabnya karena aku yang ajak liat pameran mobil di Matos. Kesengsem deh, yah tapi untungnya ini cuma mimpi. (Harga: 300 – 330 juta)
3. Kijang Innova
Walaupun sudah kuno, alias keluarnya sudah lama, tapi aku masih seneng kalo liat Innova lewat di depan mataku, yah mungkin gara-gara terlalu fanatik sama merk Toyota. (Harga 160 – 220 juta)
4. Nissan Grand Livina
Seneng sama si Livi ini, soalnya aku seneng banget sama bentuk interiornya, cukup mewah untuk mobil sekelas Livi. (Harga 150 – 210 juta)
Yah pada akhirnya ini cuman sekedar mimpi.
Menikah Membuat Indra Ke-6 Berkurang?
Hmm sebenarnya bukan indra ke-6 sih, tapi kepekaan bathin akan keilahian berkurang, mungkin itu judul yang cocok.
Yah secara tidak langsung aku mengalami keadaan berkurangnya rasa bathin ini di 1,5 tahun perjalanan pernikahanku. Tapi hal ini adalah wajar, karena pada saat telah menikah, konsentrasi waktu dan pikiran sudah banyak tersita buat keluarga. Sedangkan untuk melanjutkan perjalanan spiritual ini “katanya” harus mempunyai waktu yang khusus.
Untuk saat ini, perjalanan spiritual yang paling pas adalah “enjoy your time in every moments” menikmati segala aktifitas, baik aktifitas sebagai seorang pegawai, seorang ayah dan seorang suami.
Inilah saatnya belajar “menari di atas air yang mengalir” jadi sudah bukan mengikuti “hidup ini mengalir seperti air”
Keheningan
Kadang malam identik dengan keheningan,
Tapi keheningan tidak dapat dibandingkan dengan apapun,
Mudah-mudahan keheningan memandu langkah kita.
Seperti sinar bulan di sela cemara.
-
Arsip
- Agustus 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (1)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (2)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (1)
- Juni 2008 (3)
- Mei 2008 (5)
- April 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS






